Selasa, 30 Juni 2009

“economicsfornoneconomics” in the outsourcing era

E-conomics for non Economics

Ideas.Insight.Impact


 

Pada tahun 1989 tembok berlin yang menjadi saksi sejarah perseturuan dua sistem ekonomi yang saling bertentangan akhirnya runtuh dan menyemai pergerakan baru di sistem perekonomian dan kebebasan. 2 tahun setelahnya pada tahun 1991 world wide web (www) diluncurkan dan juga mengubah pergerakan informasi secara masif di dunia. Era informasi yang terjadi pada masa kejayaan teknologi internet, broadband, CDMA dan GPS merubah seluruh sistem perdagangan dan industri dunia. Zaman sudah berubah, berbeda apabila dibandingkan pada saat kejayaan kerajaan-kerajaan cina dan arab yang menguasai perdagangan, dimana jarak menjadi sesuatu yang biasa. Pada tahun-tahun sekarang ini, negara-negara berkembang seperti cina dan india bahkan sudah mulai memperlihatkan taringnya dalam mengambil peluang jelas terlihat tersebut, mereka berhasil karena dapat melihat peluang dan mengekspoloitasi peluang. Peluang tersebut adalah sebuah industri baru dan pendakatan baru supply chain management, yaitu outsourcing/subcontract, Bagaimana dengan Indonesia?

Outsourcing menjadi topik yang hangat dan bisa menjadi sangat kontroversial di Indonesia, apabila berbicara mengenai outsourcing dampak politisnya menjadikan RUU tenaga kerja menjadi sesuatu yang dijual oleh para calon-calon pemimpin bangsa ini. Bagi para pegawai outsourcing merupakan bahaya besar karena mereka tidak menjadi buruh tetap sebuah perusahaan, hanya menjadi pegawai kontrak, untuk perushaan tersebut. Misalkan saja di beberapa Bank nasional, mereka merekrut orang-orang untuk menjadi frontliner di bank mereka tapi bukan dengan status pegawai bank XXX, melainkan status mereka adalah peagawai kontrak bank XXX, dari penyedia jasa outsourcing perusahaan YYY. Itulah yang terjadi sekarang, namun mereka diberi keterampilan dan pengetahuan layaknya pegawai bank XXX tersebut. Bahkan selain manjadi frontilner banyak juga yang bisa dioutsource seperti pegawai security, pegawai cleaning service, pabrik sepatu, pabrik garmen, dll.

Bagaimana dengan sisi perusahaan, outsourcing spertinya memberikan lebih banyak keuntungan. Bagi para perusahaan pemakai jasa perusahaan outsourcing, mereka melakukannya dengan alasan cost by benefit, dengan harga yang murah mereka dapaty dengan kulaitas yang sama, hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di amerika maupun eropa, baik dalam bidang manufaktur maupun jasa. Dalam bidang manufaktur misalnya perusahaan-perusahaan multinasional raksasa seperti unilever melakukan kontrak supplier di vietnam, begitu juga dalam pembuatan AIRBUS, setiap parts yang ada di setiap pesawat merupakan hasil pabrikan dari berbagai negara di seluruh dunia, yang pada akhirnya dikirim ke markas besar airbus untuk dirakit menjad sebuah pesawat siap terbang, dengan standard operasional dan alasan efisiensi, hal ini mengahsilkan sebuah kolaborasi industri global, bayangkan saja seberapa besar pengaruh dari teknologi internet dan broadband. Dalam bidang jasa pun demikian, perusahaan developer di jepang atau qatar dapat saja mencari arsitek handal yang berbiaya murah daripada menggunakan jasa arsitek di negaranya sendiri yang dapat menimbulkan biaya berlipat-lipat dan mereka dapat mencarinya di Indonesia, dengan kualitas desain yang setara bahkan lebih. Selain itu akuntan ataupun konsultan pajak di Amerika juga memindahkan pekerjaan mereka ke India, dan membiarkan para pegawai india tersebut mengutak-atik laporan keuangan dan pajak orang amerika, dan mereka dapat melakukannya tentu dengan biaya yang lebih murah.

Perusahaan outsourcing sendiri sudah mulai banyak menjamur di Indoenesia sejak lama, persaingan merebut lahan pekerjaan berasala dari india, cina, thailand, filipina, dan vietnam. Value terbesarnya adalah harga yang murah dikarenakan upah pekerja yang juga murah di negara berkembang, sumber daya manusia yang berkualitas karena pendidikan yang sudah maju, dan kolaborasi usaha. Di Indonesia sendiri banyak perusahaan yang baru-baru ini kolaps karena mereka bergantung kepada pesanan kontrak dari perusahaan asing, mereka menjad isalah satu mata rantai (supply chain) bagi kolaborasi industri yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Perkembangan outsourcing berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pendapatan masyarakat, hal ini menjadi daya ungkit untuk daya beli konsumen secara langsung. Indonesia dapat saja menjadi sebuah negara penyedia jasa outsourcing, namun apakah itu yang kita butuhkan, apakah harus bergantung kepada pesanan order dari negara lain, kenapa tidak membuat sentra prodksi jasa outsourcing? Pun kalau negara ini menjadi salah satu tujuan outsourcing mungkin akan terpentok lagi oleh masalah infrastruktrur dan RUU tenaga kerja yang tak kunjung ada ujungnya. Outsourcing hanyalah salah satu alat tools yang akan mengarah pada efisiensi produksi, perusahaan dapat membuat produk dengan harga yang bisa ditekan dan pada akhirnya konsumen dapat menikmati produk dengan harga yang wajar.


 

E-conomics for non Economics

Ideas.Insight.Impact

Tidak ada komentar: