Selasa, 30 Juni 2009

“economicsfornoneconomics” in the outsourcing era

E-conomics for non Economics

Ideas.Insight.Impact


 

Pada tahun 1989 tembok berlin yang menjadi saksi sejarah perseturuan dua sistem ekonomi yang saling bertentangan akhirnya runtuh dan menyemai pergerakan baru di sistem perekonomian dan kebebasan. 2 tahun setelahnya pada tahun 1991 world wide web (www) diluncurkan dan juga mengubah pergerakan informasi secara masif di dunia. Era informasi yang terjadi pada masa kejayaan teknologi internet, broadband, CDMA dan GPS merubah seluruh sistem perdagangan dan industri dunia. Zaman sudah berubah, berbeda apabila dibandingkan pada saat kejayaan kerajaan-kerajaan cina dan arab yang menguasai perdagangan, dimana jarak menjadi sesuatu yang biasa. Pada tahun-tahun sekarang ini, negara-negara berkembang seperti cina dan india bahkan sudah mulai memperlihatkan taringnya dalam mengambil peluang jelas terlihat tersebut, mereka berhasil karena dapat melihat peluang dan mengekspoloitasi peluang. Peluang tersebut adalah sebuah industri baru dan pendakatan baru supply chain management, yaitu outsourcing/subcontract, Bagaimana dengan Indonesia?

Outsourcing menjadi topik yang hangat dan bisa menjadi sangat kontroversial di Indonesia, apabila berbicara mengenai outsourcing dampak politisnya menjadikan RUU tenaga kerja menjadi sesuatu yang dijual oleh para calon-calon pemimpin bangsa ini. Bagi para pegawai outsourcing merupakan bahaya besar karena mereka tidak menjadi buruh tetap sebuah perusahaan, hanya menjadi pegawai kontrak, untuk perushaan tersebut. Misalkan saja di beberapa Bank nasional, mereka merekrut orang-orang untuk menjadi frontliner di bank mereka tapi bukan dengan status pegawai bank XXX, melainkan status mereka adalah peagawai kontrak bank XXX, dari penyedia jasa outsourcing perusahaan YYY. Itulah yang terjadi sekarang, namun mereka diberi keterampilan dan pengetahuan layaknya pegawai bank XXX tersebut. Bahkan selain manjadi frontilner banyak juga yang bisa dioutsource seperti pegawai security, pegawai cleaning service, pabrik sepatu, pabrik garmen, dll.

Bagaimana dengan sisi perusahaan, outsourcing spertinya memberikan lebih banyak keuntungan. Bagi para perusahaan pemakai jasa perusahaan outsourcing, mereka melakukannya dengan alasan cost by benefit, dengan harga yang murah mereka dapaty dengan kulaitas yang sama, hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di amerika maupun eropa, baik dalam bidang manufaktur maupun jasa. Dalam bidang manufaktur misalnya perusahaan-perusahaan multinasional raksasa seperti unilever melakukan kontrak supplier di vietnam, begitu juga dalam pembuatan AIRBUS, setiap parts yang ada di setiap pesawat merupakan hasil pabrikan dari berbagai negara di seluruh dunia, yang pada akhirnya dikirim ke markas besar airbus untuk dirakit menjad sebuah pesawat siap terbang, dengan standard operasional dan alasan efisiensi, hal ini mengahsilkan sebuah kolaborasi industri global, bayangkan saja seberapa besar pengaruh dari teknologi internet dan broadband. Dalam bidang jasa pun demikian, perusahaan developer di jepang atau qatar dapat saja mencari arsitek handal yang berbiaya murah daripada menggunakan jasa arsitek di negaranya sendiri yang dapat menimbulkan biaya berlipat-lipat dan mereka dapat mencarinya di Indonesia, dengan kualitas desain yang setara bahkan lebih. Selain itu akuntan ataupun konsultan pajak di Amerika juga memindahkan pekerjaan mereka ke India, dan membiarkan para pegawai india tersebut mengutak-atik laporan keuangan dan pajak orang amerika, dan mereka dapat melakukannya tentu dengan biaya yang lebih murah.

Perusahaan outsourcing sendiri sudah mulai banyak menjamur di Indoenesia sejak lama, persaingan merebut lahan pekerjaan berasala dari india, cina, thailand, filipina, dan vietnam. Value terbesarnya adalah harga yang murah dikarenakan upah pekerja yang juga murah di negara berkembang, sumber daya manusia yang berkualitas karena pendidikan yang sudah maju, dan kolaborasi usaha. Di Indonesia sendiri banyak perusahaan yang baru-baru ini kolaps karena mereka bergantung kepada pesanan kontrak dari perusahaan asing, mereka menjad isalah satu mata rantai (supply chain) bagi kolaborasi industri yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Perkembangan outsourcing berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pendapatan masyarakat, hal ini menjadi daya ungkit untuk daya beli konsumen secara langsung. Indonesia dapat saja menjadi sebuah negara penyedia jasa outsourcing, namun apakah itu yang kita butuhkan, apakah harus bergantung kepada pesanan order dari negara lain, kenapa tidak membuat sentra prodksi jasa outsourcing? Pun kalau negara ini menjadi salah satu tujuan outsourcing mungkin akan terpentok lagi oleh masalah infrastruktrur dan RUU tenaga kerja yang tak kunjung ada ujungnya. Outsourcing hanyalah salah satu alat tools yang akan mengarah pada efisiensi produksi, perusahaan dapat membuat produk dengan harga yang bisa ditekan dan pada akhirnya konsumen dapat menikmati produk dengan harga yang wajar.


 

E-conomics for non Economics

Ideas.Insight.Impact

Selasa, 16 Juni 2009

“economicsfornoneconomics” in the real sector of economics

Sektor riil dan sektor finansial adalah dua sisi mata uang yg berbeda tapi saling mendukung satu sama lain, apabila diperhatikan kenapa Indonesia tidak terlalu terpengaruh terhadap krisis global yg ada pada saat ini adalah, karena ekonomi Indonesia lebih besar ditopang oleh soktor riil. Masyarakat Indonesia hanya 25-30% (data : kompas) yang menginvestasikan uangnya di pasar modal, Surat utang negara , obligasi perusahaan dan instrumen investasi lain, selebihnya adalah investasi asing yg masuk dan ikut mempengaruhi anomali pasar finansial di Indonesia. kecuali untuk industri-industri berorientasi ekspor, Indonesia dapat dikatakan bertahan dalam masa ekonomi yg tanpa kepastian ini.

Pertumbuhan ekonomi dilihat dari perkembangan infarstruktur, industri dan pasar lokal terus membuat ekonomi berjalan di negara ini. Bukan mengada-ada apabila konsumsi dalam negeri cenderung stabil, apabila berkaca pada ibukota DKI Jakarta. Arus konsumsi sangat terasa di Jakarta dilihat dari banyaknya pameran-pameran dalam negeri yang selalu penuh sesak, pusat perbelanjaan yang terus dibangun, angka penjualan barang elektronik dan otomotif yg stabil dan anda juga dapat melihat semakin besarnya semangat kewirausahaan ditanamkan di universitas maupun sekolah-sekolah. Inilah indikator dari ekonomi riil, berbagai bidang industri juga sudah menikmati pertumbuhan ekonomi ini seperti industri kreatif, teknologi informasi dan industri berbasis sistem franchise.

Dengan adanya krisis global, yang berdampak pada kebanyakan negara-negara kuat finansial di dunia, Indonesia mempunyai peluang besar untuk mulai bergerak masuk memperkuat diri, daya serap asing yg menurun terhadap komoditas mentah membuat peluang terbukanya industri pengolahan, sampai saat ini kebnyakan negara kita menjadi pengekspor bahan mentah yg rendah harganya yang dijual kepada negara lain untuk selanjutnya diolah menjadi barang bernilai lebih (added value) dan pada akhirnya dijual lagi ke Indonesia,ironis. Apabila Indonesia berubah dari negara pengekspor barang mentah menjadi pengekspor barang jadi, maka pada akhirnya berdampak positif terhadap penyerapan langsung tenaga kerja, penanaman modal langsung asing maupun lokal bahkan penyerapan bahan baku lokal. Jadi nilai sumber daya manusia dan alam yang terdapat di Indoesia raya ini dapat dipergunakan dengan nilai manfaat sebesar-besarnya.

Logika yang terjadi terhadap sektor finansial adalah pertumbuhan ekonomi makro dikarenakan investasi dalam negeri, menguatnya nilai tuka mata uang rupiah karena transaksi asing, menguatnya indeks harga saham dan pertumbuhan kredit dalam negeri. Seperti mustahil memang apabila Indonesia bisa keluar dari lingkaran setan (vicious cycle of economics), tapi bukan berarti tidak mungkin apabila dukungan infastruktur dan birokrasi dipermudah, sehingga kemudahan tersebut dapat menarik investor lokal maupun asing menanamnkan modalnya di Indonesia.


 


 


 

http://www.economicsfornoneconomics.co.cc/

ideas.insight.impact

rianhafizblog2009

Minggu, 31 Mei 2009

“economicsfornoneconomics” in fair (free) trade

Dalam konsep perdagangan secara sederhana, system penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi dagang, dan terjadi perpindahan barang dari penjual kepada pembeli dan timbal baliknya berupa uang/barang dari pembeli kepada penjual, sebuah skema standar yang dapat dilihat dimanapun pasar berada.

Namun kesederhanaan itu masih perlu dibentuk dengan lebih agar tercipta konsep perdagangan yang lebih menguntungkan antara kedua belah pihak, maka fair trade lahir, terbentuk karena keinginan untuk mensejetrahkan para petani. Misalnya dalam sistem fair trade komoditas biji kopi, pembeli biji kopi akan membeli dari para petani dengan membayar lebih daripada harga pasar kopi sendiri, hal ini akan sangat menguntungkan petani kopi, namun timbal baliknya karena membeli dengan harga premium, maka petani harus menjaga kualitas, ini merupakan skema fair trade yang biasa terjadi. Tujuannya adalah untuk kesejahteraan petani dan buruh tani dan partnership petani dan pembeli. Dalam fair trade komoditas yang biasa digunakan adalah handicraft dan produk-produk pertanian.

Namun bagaimana dengan indonesia? Di indonesia sendiri sudah mulai banyak para pedagang yang menerapkan sistem fair trade namun hanya untuk komoditas tertentu, karena yang berkuasa adalah tetap para pedagang bebas, yang berarti bebas beli, bebas jual, bebas menentukan harga, dan bebas lainnya. Inilah yang lebih banyak lagi terlihat di daerah dimana para pedagang dengan modal yang kuat akan dengan mudahnya menentukan harga kepada petani kecil, terlihat seperti petani yang butuh pedagang agar bisa hidup, padahal idealnya dalam fair trade, petani dan pedagang mempunyai hak yang sama dan kewajiban yang seimbang.

Di pasar, sistem yang terjadi dapat dilihat dengan jelas lagi bahwa pedagang dengan modal yang kuat akan menguasi pasar, dan susah sekali untuk masuk pasar bagi para pendatang baru. Arus komoditas dari petani ke pasar besar sudah disentuh oleh tangan-tangan yang membuat harga menjadi melambung.

Fair trade, lahir karena dasar keinginan adanya kesejahteraan bagi setiap produsen yang akan mendapatkan haknya sebagai manusia, dan kepastian dalam pembelian hasil bumi mereka. Fair trade berbanding terbalik dengan free trade dimana kesejahteraan pemilik modal terbesarlah yang diutamakan.


 

http://economicsfornoneconomics.co.cc/

rianhafizblog2009

Kamis, 07 Mei 2009

“economicsfornoneconomics” in urban economy

Jakarta, bandung, Surabaya, makasar, medan, New York, Bangkok, dubai, London, seoul, dan hongkong. Terbayang kota-kota dengan penduduk yang padat dan mempunyai aktivitas yang berkelanjutan. Kota dimana terjadinya aktivitas berbasis ekonomi, social dan politik, secara spesifik kota tersebut adalah pusat ekonomi dari Negara mereka masing-masing tempat berada. Dalam ilmu geografi kota-kota tersebut disebut dengan kawasan urban.

Ekonomi berfungsi dan berjalan melalui simpul-simpul tempat yang menarik untuk disinggahi dan berpotensi untuk mengadakan aktivitas perekonomian. Sebut saja Jakarta sebuah kota pelabuhan yang berkembang menjadi mega cities dan pusat perekonomian Indonesia, perkembangan Jakarta juga memicu ledakan penduduk yang pada akhirnya menghasilkan kota dengan perputaran uang besar dan cepat terjadi. Keberadaan kawasan ekonomi urban juga memicu perkembangan kawasan di sekitarnya yang menjadikan Jakarta sebagai kota tidak berdiri sendiri melainkan disupport oleh bogor, depok, bekasi dan tangerang.

Berbagai kota berlomba-lomba memberikan fasilitas terbaik mereka dan pemerintahannnya bertindak sebagai servant bagi para pelaku bisnis di kota mereka dan setiap kota juga mengeluarkan positioning untuk kota mereka. Dampak yang diinginkan adalah masuknya investor dari manapun ke kota mereka, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan kota yang di"jual". Pada kenyataannya kota-kota besar di Indonesia belum mempunyai branding yang jelas terhadap kota mereka sendiri, yang terjadi hanyalah stereotype yang terbentuk dari opini public mengenai kota tersebut. Hongkong sebagai kota besar mempunyai positioning yang unik, mereka menawarkan sebuah kultur yg berbeda dari sebuah kota, meskipun sebenarnya dapat saja anda lihat di singapura maupun kuala lumpur, namun hongkong berhasil menarik investor dari Negara barat dan Negara timur untuk bertemu dan membuat deal bisnis di kota mereka. Mereka menawarkan akses industry dan kemudahan shipping, jadi proses input dan output ekonomi terjadi.

Bagaimana dengan kawasan diluar kota, dalam bahasa geografi disebut suburban ataupun rural area. Inilah kawasan yang benar-benar menyokong kehidupan kota. Pada tengah malam sangat terasa arus masuk barang komoditas dari daerah secara sporadic masuk ke berbagai kawasan perkotaan, komoditas pertanian dan industry pangan masuk melalui berbagai jalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota. Dan kawasan itu juga menyokong tempat tinggal bagi sumber daya manusia yang beraktivitas di kawasan urban, sebuah trade off yang sangat jelas. Keuntungan bagi kawasan diluar urban sangat menjanjikan untuk perkembangan ke depan.

Dampak negative yang sering disebut adalah terjadinya urbanisasi maupun ketidakmerataan ekonomi penduduk namun apabila dilihat lebih dalam lagi, peluang untuk berkembang di sebuah kawasan sangat tinggi baik di kawasan urban, maupun yang lain. Setiap kawasan mempunyai porsi dan fungsi ekonomi masing-masing yang unik dan saling melengkapi jadi kecil kemungkinannya apabila terjadi swap antara fungsi kota satu dengan yang lain.


 

Inspired by Ridwan Kamil of Urbane


 


 


 

http://economicsfornoneconomics.co.cc/

rianhafizblog2009


 

Sabtu, 25 April 2009

franchise as a tool to gain wealth and experience? so let's come to Franchise Holic Expo to know the answer

apakah persamaan dari mcdonald, tela-tela, kebab turki baba rafi, panorama tours, pisang ijo aladin, Starbucks coffee, english first, veneta system, ray white, ILP, circle K? yap benar semuanya adalah bisnis waralaba (franchise).

franchise adalah model bisnis yang sedang berkembang di Indonesia. dari segi pelaku usaha, mereka ingin melakukan ekspasnsi bisnis tanpa mengeluarkan investasi yang besar, solusinya adalah mereka membuat sistem yang membuat investor dapat membeli dan menggunakan sistem bisnis yang mereka buat. imbal balik bagi franchisor (pihak yang mengeluarkan sistem bisnis) adalah ekspansi bisnis, branding dan pendapatan tetap dari fee.

franchise di Indonesia sangat bervarisi dari segi industri maupun dari besar investasi yang ditanamkan, bahkan calon franchisee dapat memilih lokal atau nonlokal. tergantung dari kemampuan dan interst para calon franchisee untuk memlih yang sesuai.

apabila anda ingin berinvestasi dengan return yang tinggi diatas suku bunga deposito, menyalurkan hobi berbisnis tanpa mau repot membuat sistem dan mendapatkan pengalaman bisnis. maka membeli franchise adalah salah satu dari opsi terbaik.

keuntungan berinvestasi dengan franchise adalah sebagai berikut :
1. pendapatan yang sudah diperhitungkan
2. sistem yang sudah ada dan teruji
3. support maupun konsultasi bisnis dari franchisor
4. kemudahan start up
5. pengalaman menjalankan bisnis riil
6. variasi bisnis yang dapat dipilih sesuai kemampuan franchisee
7. produk/jasa yang sudah standar
masih banyak lagi benefit yang didapatkan dari franchise

sedangkan kekurangan dari sistem ini antara lain :
1. franchisee tidak memiliki kebebasan dalam sistem
2. kontrak yang mengikat
3. tidak ada jaminan
4. masih banyak franchisor yang tidak kompeten
kekurangan-kekurangan ini dapat diatasi apabila dari franchisee dapat menggunakan hak mereka dengan sebaik-baiknya kepada franchisor

maka untuk memilih mana yang akan diambil sebaiknya perhatikan regulasi dan aturan yang ditetapkan dranchisor, tanya apapun yang perlu anda tanyakan kepada mereka lihatlah apakah franchisor mempunyai kompetensi dalam menjalankan bisnis mereka sendiri. dan yang paling penting perhatikan kredibilitas dan reputasi franchisor anda dapat mengetahuinya dengan bertanya kepada orang-orang yg lebih dulu membeli fanchise tersebut.

bisnis apapun tidak akan berjalan dengan baik dan sukses apabila tidak didasari dengan komitmen, niat dan fokus dalam menjalankannya. jadi, membel franchise adalah sebuah pilihan menarik yang dapat diamlbil apabila anda ingin mendapatkan pengalaman dan menambah uang jajan anda.



originally posted for Franchise Holic Expo 2009 http://www.facebook.com/note.php?note_id=105241817424&ref=mf

Kamis, 16 April 2009

“Economicsfornoneconomics” in commodity value

Apa yang terbayangkan apabila kita membicarakan sebuah kata komoditas? Mungkin terbayang adalah hasil produksi olahan maupun non olahan yang berasal dari tangan-tangan manusia. Teh, kopi, kina, kedelai, gandum, minyak, CPO, rempah dll adalah hanya sebagan kecil dari komoditas penting di Indonesia. Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak bangsa eropa berusaha menjelajah ke belahan dunia untuk mencari komoditas yang tidak ada di dataran mereka.

Komoditas dapat menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi di Negara manapun juga, tergantung dari bagaimana Negara tersebut mengatur regulasi yg dapat memenangkan tangn-tangan yang bersentuhan langsung dengan komoditas tersebut. Sebut saja china, mereka focus kepada komoditas unggulan mereka untuk produk manufaktur dan produk perikanan. Malaysia dan Thailand dengan mantap dan percaya diri juga memfokuskan Negara mereka pada komoditas jasa pariwisata. India dengan produk "human capital" yang tersebar di berbagai belahan dunia dan mengisi jajaran eksekutif perusahaan, ini juga salah satu komoditas yang dapat diperdagangkan.negara-negara timur tengah dapat menjadi kaya raya dan makmur karena produksi minyak mentah mereka. Bahkan Negara seperti brazil menjadi Negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Dan jangan lupakan uni eropa dan amerika serikat dalam kancah di pasar komoditas.

Komoditas mempunyai sebuah nilai, yang membuat menjadi sebuah hal yang berharga. Chicago board of trade, new York mercantile exchange, London metal exchange adalah sebagian kecil dari bukti bahwa sebuah komoditas, bahkan sebuah kontrak dapat menjadi sebuah nilai. Harga adalah implikasi dari sebuah nilai tentu saja harga dari komoditas adalah hal yang benar-benar melihat ke sisem pasar modern, sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan.

Bagaimana dengan Indonesia yang mempunyai hamper semua resources tersebut, dimana CPO, teh, kopi, emas, minyak, dan berbagai potensi yang ada. Melihat dari apa yg Negara lain fokuskan, teorinya kita dapat bersanding dengan baik dan unggul berkompetisi di pasar komoditas, tanpa melihat faktor X. X inilah yang membuat teori tidak dapat berjalan menjadi sebuah teori praktis yg benar-benar terjadi. Kerjasama internasional dibutuhkan juga untuk penyebaran komoditas dan secara efektif.

Apa yang menjadi faktor X tersebut? Apakah kreatifitas dari sebuah manusia juga dapat menjadi sebuah menu komoditas?


 


 

http://economicsfornoneconomics.co.cc/

rianhafizblog2009


 

Jumat, 27 Maret 2009

“economicsfornoneconomics”in trade market as a culture

“economicsfornoneconomics”in trade market as a culture

Pasar, apa yang kalian ketahui tentang pasar? Apakah pasar hanya sekedar tempat bertmunya penjual dan pembeli, dimana demand dan supply bertemu dan membentuk titik equilibrium. sebuah kata pasar dapat menjadi lebih kompleks dari yang seharusnya. Dimana sebuah konsep pasar itu sendirilah yang menjadi dasar teori marketing. Tapi yang saya bahas disini bukanlah sebuah pasar dari segi marketing dan ekonomi, karena sudah jelas atahanya kalau membahas pasar dari perspektif ilmu marketing dan ekonomi. Yang saya bahas disini adalah pasar dan budaya manusia.

“kalau mau beli elektronik di glodok aja, murah-murah tuh!”
“kalau mau beli kain di pasar baru aja ama org india disana”
“kalau mau beli produk pakaian jadi di tenabang aja, grosir terbesar”
“kalau mau beli saham ya di bursa efek”
Benarkah pertanyaan yang ada disini?

Apabila kita berbicara mengenai pasar local, sudah terbayang pasar yang becek bau dan kotor. Ya itulah potret pasar tradisional kita yang terkesan semrawut dan tidak ada aturannya. Namun pasar-pasar tersebut memberikan sebuah gambaran mengenai budaya. Sebuah stereotype yg lazim misalanya adalah pasar-pasar yang ada biasanya merpresentasikan etnis atau suku yg banyak terdapat didalamnya. Jadi terdapat stereotype yang berkembang di masyarakat mengenai pasar tradisional yang identik dengan budaya tertentu. Para penjual yang anda temui di pasar senen, glodok, pasar baru pasti berbeda dari asal dan cara mereka menjual barang, Sebuah fenomena menarik. Dan dalam konteks ini pun sebuah pasar tradisional mempunyai positioning mereka sendiri. Dari segi jumlah barang terdapat pasar retail dan grosir. Dan yang lebih spesifik lagi adalah setiap pasar mempunyai komoditas utama yang menjadi andalan. Dengan target market yang spesifik, sebuah pasar tetap dapat menjadi pilihan bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, pergeseran budaya dan pola pikir masayarakat mengantarkan pada perubahan kearah pasar modern

Pasar modern dengan berbagai skala usaha diklasifikasikan dari minimarket, supermarket, dan hypermarket. Pasar modern ini sudah mulai banyak menjamur di sini sebagai subtitusi dari pasar tradisional. Namun di pasar modern ini, budaya itu hilang yang ada hanyalah sebuah tempat dimana konsumen membutuhkan barang dan mereka menyediakan, sudah tidak ada lagi interaksi positif yang dibangun. Tapi kabar baiknya adalah pasar modern ini konsumen dapat memilih barang yang mereka mau dengan bebasa dan tidak perlu repot menawar harga yang ada, sekalai lagi tidak ada interaksi harmonis antara penjual dan pembeli. Pasar modern ini di Indonesia sendiri sebagai Negara berkembang menjadi sebuah kontroversi karena dianggap mematikan potensi pasar tradisional.

Lebih luas lagi apabila kita berbicara pasar global, Negara di dunia masih bergantung kepada Negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya maupun untuk menjual hasil produksi ke Negara lain, yang terjadi adalah simbiosis yang saling menguntungkan antar Negara. Maraknya ekspor dan impor membuat interaksi global terjadi dengan begitu cepat pada masa sekrang ini, apalagi dengan fasilitas internet yang membuat sgalanya lebih mudah dan efisien. Yang perlu diperhtikan dalam pasar global ini adalah perbedaan budaya yang jelas membuat gap antara penjual dan pembeli, sehingga masing-masing harus mengakomodir perbedaan tersebut, dan satu masalah yang sering terjadi adalah penipuan.

Zaman terus berkembang, manusia terus berpikir untuk maju, budaya berkembang dan implikasinya dapat dilihat dari sebuah pasar. Dari zaman pedagang-pedagang arab, china dan eropa yang mengarungi bumi untuk menjual komoditas mereka, sampai sekarang zaman perdagangan bebas dimana pedagang sudah tidak perlu bertemu langsung dengan konsumen hanya dengan internet dan terjadilah transaksi. Kompetisi yang ketat di pasar global dapat menjadi sebuah peluang besar bagi siapapun yang berhasil mengeksploitasinya.
“think and act glocally”




http://economicsfornoneconomics.co.cc/
Rianhafizblog2009